Cerita Miris di Balik Hak Pemain PSBS Biak yang Belum Dibayar
Kabarnaya.com – Cerita Miris di Balik Hak Pemain – Krisis finansial yang melanda PSBS Biak semakin dalam dan memprihatinkan. Selama periode Februari hingga Mei 2026, para pemain serta ofisial klub belum menerima hak-hak mereka yang seharusnya sudah dibayarkan. Situasi ini semakin memburuk ketika sejumlah atlet hingga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Banyak dari mereka yang harus memilih antara makan dan membayar tagihan rumah tangga lainnya.
Beberapa dari mereka bahkan tidak mampu membayar biaya pendidikan anak-anak. Selain itu, pembelian token listrik juga menjadi beban berat bagi keluarga pemain. Asisten Manajer PSBS Biak, Erol Iba, mengonfirmasi bahwa sebanyak 54 orang telah menandatangani surat tuntutan. Angka ini mencakup pemain, pelatih, ofisial, hingga staf pendukung lainnya yang semuanya merasakan dampak langsung dari keterlambatan pembayaran.
“Ini saya ada bawa surat. Ini ada sekitar 54 orang yang tanda tangan. Ini ofisial, coach, dan pemain. Ofisial sudah termasuk (supir) bus, yang bawa bus, masseur, kitman, semua sudah termasuk di dalam sini. Total 54 orang,” ujar Erol Iba dengan nada prihatin.
Dampak Berat Bagi Keluarga Pemain
Keterlambatan pembayaran gaji memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan para atlet dan keluarganya. Erol Iba menjelaskan bahwa kondisi ini dirasakan sangat berat oleh para atlet beserta keluarganya. Tidak hanya masalah finansial, tetapi juga tekanan psikologis yang semakin menumpuk setiap harinya.
“Ada beberapa anak dari pemain, dari pelatih yang bahkan tidak sekolah. Bahkan token listrik pun enggak bisa dibayar. Yang kuliah ada yang mau di-DO (Drop Out).”
Menurut Erol, masalah ini tidak didengarkan oleh direksi PSBS. Hal tersebut mendorongnya untuk langsung mendatangi kantor I League di Jakarta. Tujuannya adalah mempertanyakan pembayaran gaji, termasuk terkait dana deposito yang sebelumnya sempat dibahas oleh Sekjen PSSI, Yunus Nusi. Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata bagi para pemain.
“I League menyarankan kalau bisa direksinya (PSBS) datang ke sini, ketemu dan bicara bagaimana baiknya untuk pembayaran gaji kita.”
Erol menambahkan bahwa saat final Liga 2 di Sleman, Pak Sekjen PSSI menyampaikan melalui TikTok bahwa gaji pemain PSBS aman karena ada deposit yang ditahan. Namun, upaya menghubungi manajemen belum membuahkan hasil. Beberapa pemain bahkan diblokir melalui WhatsApp, sehingga komunikasi menjadi semakin sulit. Ini menunjukkan bahwa masalah tidak hanya sebatas pembayaran, tetapi juga hubungan antara pemain dan manajemen.
“Saya pribadi, saya sudah sering sampaikan (ke manajemen), tapi enggak ada tanggapan sama sekali. Bahkan ada beberapa pemain sudah diblok sama nomor-nomornya itu,” ujar Erol.
Erol berharap direksi dapat membuka hati dan melihat penderitaan anak istri yang sudah empat bulan tidak menerima gaji. Ia berharap mereka bisa datang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Cerita Miris di Balik Hak Pemain ini harus segera ditindaklanjuti agar tidak semakin memperburuk situasi.
PSBS Biak Terdegradasi ke Liga 2
Permasalahan internal ini berdampak langsung pada performa tim. PSBS Biak, yang dijuluki Badai Pasifik, mengalami penurunan penampilan di putaran kedua Super League 2025/2026. Pada akhirnya, tim terdegradasi ke Championship atau Liga 2. Kondisi finansial yang tidak stabil menjadi salah satu faktor utama penyebab penurunan performa tersebut.
PSBS bergabung dengan dua tim lain, yaitu Persis Solo dan Semen Padang, untuk turun ke divisi lebih rendah. PSBS Biak menempati peringkat ke-18 atau sebagai juru kunci klasemen. (*)
