BNPB Lakukan Water Bombing di Dekat Pusat Rehabilitasi YIARI
Kabarnaya.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melaksanakan operasi water bombing untuk melindungi kawasan hutan dan satwa liar di sekitar Pusat Rehabilitasi YIARI. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat semakin meningkat, sehingga langkah preventif ini menjadi sangat penting. Operasi pemadaman dari udara ini dilakukan untuk memastikan api tidak menyebar ke fasilitas rehabilitasi orang utan yang menjadi rumah bagi ratusan satwa langka.
Lokasi Titik Api dan Jarak dari YIARI
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada tanggal 22 Juli 2024 di Jalan Ketapang-Tanjungpura KM 5. Titik api tersebut berada di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang. Berdasarkan data pemantauan, lokasi kebakaran berjarak sekitar satu kilometer dari Pusat Rehabilitasi YIARI. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 15 hektare, namun proses pendataan masih terus dilakukan oleh tim lapangan untuk memastikan akurasi data.
Kondisi cuaca yang kering disertai angin kencang menjadi faktor utama penyebaran api yang cepat. Selain mengancam satwa liar, karhutla juga berpotensi menurunkan kualitas udara secara signifikan. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi masyarakat sekitar dan para pengunjung yang datang ke kawasan rehabilitasi.
Koordinasi Tim Gabungan dalam Pemadaman
Menurut Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, tim gabungan Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang terus bekerja keras melakukan pemadaman. Tim ini terdiri dari berbagai instansi pemerintah dan swasta, termasuk BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung oleh YIARI dan PT MoPaKha. Sinergi antar lembaga ini menjadi kunci keberhasilan operasi pemadaman.
Untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat, BNPB mengerahkan dukungan pemadaman melalui water bombing di sejumlah lokasi sebagai bagian dari upaya terpadu mencegah api meluas menuju fasilitas rehabilitasi dan kawasan hutan di sekitarnya.
Operasi water bombing ini dilakukan secara bertahap di beberapa titik strategis. Metode ini terbukti efektif dalam memadamkan api yang berada di area dengan akses terbatas. Selain itu, water bombing juga membantu mendinginkan suhu udara di sekitar kawasan rehabilitasi, sehingga mengurangi risiko api melompat ke area lain.
Keamanan Satwa dan Kesehatan Masyarakat
Argitoe Ranting menegaskan bahwa keselamatan orang utan dan satwa lain yang berada di pusat rehabilitasi menjadi prioritas utama. Seluruh satwa saat ini dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh tim dokter hewan serta animal keeper. Pemantauan intensif dilakukan untuk memastikan tidak ada satwa yang mengalami stres atau cedera akibat asap dan panas.
Dari sisi kesehatan, asap karhutla dapat menimbulkan dampak serius terhadap masyarakat, terutama kelompok rentan. Dokter Spesialis Mikrobiologi Simon Yosonegoro Liem menyebutkan bahwa anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan merupakan kelompok yang paling terdampak. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika diperlukan.
Asap karhutla juga dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, menyatakan bahwa penanganan karhutla di sekitar pusat rehabilitasi orang utan merupakan bentuk komitmen bersama untuk melindungi hutan, satwa liar, dan keselamatan masyarakat. Upaya ini tidak hanya bersifat sementara, namun juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mencegah kebakaran di masa depan.
Masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan kesadaran kolektif, diharapkan kawasan rehabilitasi dan hutan sekitarnya dapat tetap terjaga dari ancaman karhutla. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal menjadi fondasi utama dalam pelestarian alam Kalimantan Barat.
