Fashion Jadi Bahasa Lintas Budaya di L’ENTRE-DEUX JF3 2026
Kabarnaya.com – Fashion menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia berbeda. Di bawah cahaya lampu yang menyinari runway berbentuk angka delapan, koleksi para perancang muda memukau penonton. Acara L’ENTRE-DEUX: INTERWOVEN IDENTITIES yang diselenggarakan oleh PINTU Incubator, École Duperré, dan Future Fashion Designer (FFD) berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta. Perhelatan ini menjadi bagian dari JF3 Fashion Festival 2026 yang menghadirkan pertemuan antara talenta muda dari Indonesia dan Prancis.
Kolaborasi antara FFD, PINTU Incubator, serta École Duperré Paris mendorong para perancang untuk mengeksplorasi ide-ide segar. Melalui proses ini, pertukaran budaya menghasilkan pendekatan kreatif baru dalam industri mode. Fashion menjadi bahasa universal yang memungkinkan setiap desainer menyampaikan cerita personal melalui karya mereka.
Perancang Indonesia Mengeksplorasi Identitas Lewat Busana
Empat finalis Future Fashion Designer tampil dengan koleksi yang lahir dari pencarian bentuk, material, konstruksi, hingga identitas. Mereka adalah Arron Bryan, Azzahra Najmanisa, Tashannie Abigail Loekman, dan Nabila Karimah. Bersama mereka, lima peserta PINTU Incubator, satu desainer dari program PINTU Akselerator, dan tiga lulusan École Duperré Paris juga memamerkan karya di hadapan para penggemar fashion.
Meskipun setiap koleksi memiliki sudut pandang unik, terdapat kesamaan dalam visi: fashion sebagai sarana menyampaikan cerita personal dan hasil pembelajaran lintas budaya. Setiap busana yang ditampilkan mencerminkan perjalanan kreatif para perancang dalam memahami identitas mereka melalui medium tekstil dan desain.
Arron Bryan Hadirkan Konsep Terbalik dalam Koleksinya
Arron Bryan, salah satu finalis, menceritakan bahwa proses kreatifnya tidak berjalan mulus. Ia harus membalik seluruh gagasan dari inspirasi awal tanpa kehilangan keterkaitan antar elemen dalam koleksinya.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghadirkan karakter yang benar-benar berlawanan dari inspirasi awal. Tekstur, ide, dan konsep semuanya harus diputarbalikkan, tetapi tetap saling terhubung sehingga membentuk satu kesatuan cerita.
Tiga Lulusan École Duperré Paris dengan Pendekatan Artistik Unik
Setelah penampilan desainer Indonesia, panggung dilanjutkan oleh tiga lulusan École Duperré Paris yang masing-masing menawarkan perspektif berbeda. Aurélien Voegelin memulai dengan koleksi Beauties yang terdiri dari 10 look. Karya ini mengeksplorasi konsep kecantikan, hasrat, dan cara masyarakat memandang tubuh. Melalui siluet yang ekspresif, fashion menjadi medium pemberdayaan dan ruang ekspresi identitas diri.
Desainer berikutnya memamerkan koleksi 3088 — the Ear Tag Number of Magali. Dengan tujuh look, karya ini mengolah kenangan masa kecil, elemen workwear, dan sejarah keluarga menjadi busana kontemporer yang sarat nilai personal. Setiap detail dalam koleksi ini menceritakan perjalanan emosional sang perancang.
Paul Vidal menutup peragaan dengan Emballez-moi, koleksi enam look yang terinspirasi potret Eropa abad ke-15 dan ke-16. Menggunakan material kemasan sebagai elemen utama, ia menerjemahkan warisan sejarah ke dalam siluet modern. Hasilnya menjadi refleksi tentang hubungan antara memori, pelestarian, dan transformasi dalam konteks fashion kontemporer.
JF3 2026: Fashion sebagai Jembatan Pertukaran Gagasan
Melalui L’ENTRE-DEUX: INTERWOVEN IDENTITIES, JF3 Fashion Festival 2026 tidak hanya menghadirkan karya baru, tetapi juga menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas negara dan budaya membuka perspektif bagi generasi perancang berikutnya. Setiap koleksi membuktikan bahwa fashion bukan sekadar estetika, melainkan ruang untuk bertukar gagasan, mengolah identitas, dan menyampaikan cerita yang melampaui batas geografis.
Acara ini menjadi bukti nyata bahwa fashion adalah bahasa lintas budaya yang mampu menghubungkan berbagai perspektif dan pengalaman. Para perancang dari kedua negara berhasil menciptakan dialog visual yang kaya makna melalui karya-karya mereka.
(Far)
