Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan
Lonjakan Harga Pangan Meluas di Banyak Kabupaten dan Kota
Kabarnaya.com – Tekanan harga pangan kembali meluas pada pekan ketiga September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 319 kabupaten dan kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), menunjukkan bahwa kenaikan biaya sejumlah bahan kebutuhan pokok dirasakan di sebagian besar wilayah yang dipantau.
Angka tersebut bertambah dibandingkan pekan sebelumnya, ketika kenaikan IPH terjadi di 314 kabupaten dan kota. Pergerakan ini juga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pekan keempat Agustus 2026, saat jumlah wilayah yang mengalami kenaikan masih berada pada 242 kabupaten dan kota.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa perluasan wilayah dengan kenaikan IPH terlihat terutama di daerah di luar Jawa dan Sumatera. Kondisi ini menempatkan sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia sebagai area dengan tekanan harga paling besar pada periode tersebut.
Sulawesi Utara dan Gorontalo Catat Kenaikan Tertinggi
Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan lonjakan IPH terbesar, mencapai 12,45 persen. Gorontalo berada di posisi berikutnya dengan kenaikan 10,25 persen. Besarnya perubahan harga di dua provinsi itu dipengaruhi oleh naiknya harga cabai rawit, cabai merah, daging sapi, serta beras.
Cabai menjadi salah satu komoditas yang mudah memengaruhi pengeluaran harian rumah tangga karena digunakan secara luas dalam konsumsi makanan. Saat harganya bergerak naik bersamaan dengan beras dan daging, dampaknya dapat lebih terasa pada belanja pangan masyarakat.
Selain dua provinsi tersebut, Maluku Utara membukukan kenaikan IPH sebesar 5,53 persen. Sulawesi Tengah mencatat kenaikan 4,92 persen. Sulawesi Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur juga berada dalam kelompok daerah dengan peningkatan IPH pada kisaran 3 persen hingga 5,5 persen.
Tekanan harga di wilayah-wilayah itu tidak hanya datang dari cabai rawit dan cabai merah. Daging ayam ras serta daging sapi turut menjadi komoditas yang mendorong kenaikan. Perubahan harga pada barang-barang tersebut penting diperhatikan karena masing-masing memiliki peran besar dalam kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Kenaikan Dua Digit di Sejumlah Daerah
Pada tingkat kabupaten dan kota, sejumlah daerah di Sulawesi Utara serta Gorontalo mencatat perubahan IPH yang sangat tinggi. Kabupaten Bone Balango di Gorontalo mencatat kenaikan sebesar 15,71 persen, menjadi salah satu wilayah dengan lonjakan paling besar pada pekan ketiga September 2026.
Di Sulawesi Utara, kenaikan dua digit terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kota Bitung, dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.
Perbedaan angka antardaerah memperlihatkan bahwa tekanan harga pangan tidak selalu berlangsung seragam. Sebuah provinsi dapat mengalami kenaikan tinggi, tetapi tingkat perubahan di tiap kabupaten atau kota tetap dapat berbeda. Jenis komoditas yang berpengaruh pun bisa bervariasi, meski cabai, beras, dan aneka daging menjadi faktor yang menonjol pada periode ini.
IPH digunakan untuk memantau arah perkembangan harga di wilayah. Ketika nilainya meningkat, hal itu menggambarkan adanya kenaikan harga pada komoditas yang dipantau. Data ini membantu melihat daerah mana yang sedang menghadapi tekanan harga lebih besar dan komoditas apa yang perlu mendapat perhatian.
Sejumlah Wilayah Masih Relatif Stabil
Di tengah meluasnya kenaikan, BPS juga menemukan beberapa wilayah dengan perubahan IPH yang relatif rendah, yakni di bawah 1 persen. Papua, Papua Barat, dan Maluku termasuk dalam kelompok daerah dengan pergerakan harga yang lebih terbatas pada periode pengamatan tersebut.
Perubahan yang rendah tidak berarti harga seluruh bahan pangan di daerah tersebut tetap sama. Namun, secara umum, pergerakan indeksnya tidak sebesar wilayah yang mencatat kenaikan beberapa persen hingga dua digit. Perbedaan ini memberi gambaran bahwa kondisi harga pangan pada akhir September belum bergerak dengan intensitas yang sama di seluruh Indonesia.
Bagi masyarakat, perkembangan IPH dapat menjadi penanda untuk mencermati perubahan harga kebutuhan rutin, terutama beras, cabai, daging ayam ras, dan daging sapi. Komoditas tersebut muncul berulang kali sebagai penyumbang tekanan di berbagai wilayah yang mengalami kenaikan.
Kenaikan jumlah kabupaten dan kota dari 242 wilayah pada akhir Agustus menjadi 319 wilayah pada pekan ketiga September menunjukkan bahwa tekanan harga meluas dalam waktu kurang dari satu bulan. Perhatian terhadap ketersediaan dan pergerakan harga pangan menjadi penting, khususnya di daerah yang mencatat lonjakan paling tinggi.
Situasi di Sulawesi Utara dan Gorontalo menjadi sorotan utama karena kenaikannya melampaui provinsi lain. Sementara itu, perkembangan di Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sumatera Utara, serta Kalimantan Timur memperlihatkan bahwa tekanan harga pangan juga hadir di berbagai kawasan lain.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan?Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan matter?Mayoritas Daerah Alami Kenaikan Harga Pangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.