KabarNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

MBG Uji Coba Prasmanan ala Jepang, Siswa Ikut Sajikan Makanan

Published Oktober 6, 2026 · Updated Oktober 6, 2026 · By Michael Garcia - kabarnaya.com

Foto : Michael Garcia - kabarnaya.com

BGN Uji Pola Prasmanan Hangat untuk Program MBG di Sekolah

Kabarnaya.com – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji penyajian makanan bergizi gratis dengan pola prasmanan yang melibatkan peran aktif siswa di sekolah. Uji coba ini dilakukan di lebih dari 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari pengembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melalui skema tersebut, makanan tetap diproses di dapur SPPG, lalu dikirim ke sekolah dalam keadaan hangat. Saat tiba di lokasi, makanan tidak langsung dibagikan dalam paket individual, melainkan ditata untuk disajikan kepada siswa di ruang kelas. Pola ini mengambil inspirasi dari kebiasaan makan bersama di sekolah-sekolah Jepang.

Uji coba dimulai pada 5 Oktober 2026 di sejumlah daerah. Wilayah yang terlibat mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga Jayapura. Kepala BGN Sudaryono menyampaikan bahwa model ini sedang diterapkan secara terbatas untuk melihat efektivitasnya sebelum ada keputusan lebih lanjut mengenai perluasan program.

Siswa Bergiliran Membantu Penyajian

Perubahan paling menonjol dari sistem ini adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan makan bersama. Anak-anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga mendapat giliran membantu menyiapkan dan membagikan hidangan kepada teman sekelasnya.

Setiap kelompok piket direncanakan terdiri atas sekitar lima sampai enam siswa. Mereka dapat bertugas mengatur alur penyajian, membantu teman mengambil makanan, serta mendukung kelancaran kegiatan makan di kelas. Dalam pelaksanaannya, siswa yang menjalankan tugas penyajian berpotensi menggunakan celemek dan sarung tangan.

Keterlibatan tersebut memberi dimensi pendidikan dalam pelaksanaan MBG. Kegiatan makan tidak semata-mata menjadi waktu menerima asupan, melainkan juga kesempatan untuk membangun kebiasaan tertib, kerja sama, serta rasa tanggung jawab terhadap ruang bersama. Sistem piket membuat siswa belajar bahwa kegiatan makan di sekolah membutuhkan peran semua pihak, bukan hanya petugas dapur atau guru.

Pengaturan seperti ini juga dapat membantu membentuk budaya saling menghargai saat makan. Siswa yang bertugas perlu memastikan teman-temannya terlayani dengan baik, sedangkan siswa lain mengikuti alur yang telah diatur. Dalam konteks sekolah, keterampilan sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari pembelajaran kehidupan sehari-hari.

Menjaga Makanan Tetap Hangat dan Segar

Aspek utama yang diuji BGN adalah jarak waktu antara makanan dimasak dan saat dikonsumsi. Dalam pola prasmanan, hidangan dimasak lebih dahulu di dapur SPPG, kemudian dibawa ke sekolah dan disajikan ketika masih hangat. Dengan waktu tunggu yang lebih terjaga, makanan diharapkan terasa lebih segar saat sampai kepada siswa.

Pengaturan distribusi makanan menjadi penting dalam program berskala besar seperti MBG. Makanan yang terlalu lama menunggu sebelum disantap dapat memengaruhi kualitas sajian. Karena itu, penyajian langsung di sekolah melalui sistem prasmanan diuji sebagai salah satu cara untuk menekan risiko makanan rusak yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Model ini juga memberi sekolah pengalaman langsung dalam mengelola kegiatan makan bersama. Kelas perlu menyesuaikan waktu, tempat, serta pembagian tugas agar proses penyajian berjalan rapi. Pengelolaan yang baik dibutuhkan supaya makanan tetap tersalurkan kepada seluruh siswa tanpa mengganggu kegiatan belajar secara berlebihan.

Peluang Mengurangi Sisa Makanan

Hasil awal pelaksanaan menunjukkan tingkat makanan yang habis cukup baik. Sistem prasmanan dinilai memiliki potensi untuk mengurangi makanan terbuang karena siswa dapat mengambil porsi yang sesuai dengan kebutuhannya. Jika masih tersedia, mereka juga dapat menambah makanan setelah memastikan teman-teman lain telah mendapat bagian.

Fleksibilitas porsi menjadi salah satu perbedaan dibanding pembagian makanan dalam bentuk paket yang seragam. Kebutuhan makan setiap siswa tidak selalu sama. Ada yang membutuhkan porsi lebih banyak, sementara yang lain cukup mengambil lebih sedikit. Pola prasmanan membuka ruang penyesuaian tersebut dengan tetap menjaga pemerataan distribusi.

Pengurangan sisa makanan bukan hanya terkait efisiensi bahan pangan, tetapi juga dapat mendorong kebiasaan mengambil makanan secara bijak. Siswa dapat belajar memilih porsi yang mampu mereka habiskan. Kebiasaan itu relevan dalam kegiatan makan bersama di sekolah, terutama ketika makanan disiapkan untuk banyak orang dalam waktu yang sama.

Belum Ada Keputusan Mengganti Pola Distribusi Lama

Meski telah diterapkan di lebih dari 60 dapur SPPG, BGN belum memutuskan bahwa sistem prasmanan akan menggantikan pola penyaluran MBG yang saat ini berjalan. Uji coba masih menjadi tahap untuk melihat penerapan di berbagai daerah dan lingkungan sekolah.

Perbedaan kondisi antarsekolah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Kesiapan ruang kelas, pengaturan jadwal, jumlah siswa, serta kelancaran distribusi makanan dapat memengaruhi pelaksanaan di lapangan. Karena itu, perluasan model ini akan membutuhkan penyesuaian agar tujuan keamanan pangan, keteraturan, dan keterlibatan siswa dapat berjalan bersamaan.

Sudaryono berharap pola penyajian tersebut dapat diterapkan di lebih banyak sekolah apabila hasil percobaannya terus menunjukkan perkembangan positif.

“Kita berharap akan semakin banyak kita laksanakan seperti itu,” kata politikus Gerindra ini.

Uji coba prasmanan dalam MBG memperlihatkan upaya untuk menggabungkan pemenuhan gizi dengan pembelajaran kebiasaan sosial di sekolah. Keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan setiap sekolah menjaga makanan tetap aman, mengatur pelayanan dengan tertib, serta memastikan seluruh siswa menerima makanan yang cukup.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is MBG Uji Coba Prasmanan ala Jepang?

MBG Uji Coba Prasmanan ala Jepang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does MBG Uji Coba Prasmanan ala Jepang matter?

MBG Uji Coba Prasmanan ala Jepang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.