Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
4

Visit Agenda: 4 Tewas dan 9 Luka Saat Praktik Lapangan Politeknik Pelayaran, Kemenhub Harus Tanggung Jawab

David Wilson - kabarnaya.com 3 mins read

Visit Agenda: Kecelakaan Maut di Pelabuhan Ulee Lheue, 4 Mahasiswa Tewas dan 9 Luka Akibat Ledakan Mesin Kapal Visit Agenda - Sebuah insiden maut terjadi di

Visit Agenda: 4 Tewas dan 9 Luka Saat Praktik Lapangan Politeknik Pelayaran, Kemenhub Harus Tanggung Jawab

Visit Agenda: Kecelakaan Maut di Pelabuhan Ulee Lheue, 4 Mahasiswa Tewas dan 9 Luka Akibat Ledakan Mesin Kapal

Visit Agenda – Sebuah insiden maut terjadi di Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh, Jumat (12/6) saat sejumlah mahasiswa Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati sedang menjalani praktik lapangan. Ledakan dari mesin Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Aceh Hebat 2 menewaskan empat korban dan melukai sembilan orang lainnya, memicu kecaman terhadap Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Moment Kecelakaan dan Korban yang Terdampak

Kecelakaan terjadi setelah kapal baru saja berlabuh setelah melakukan perjalanan dari Sabang. Dalam kejadian ini, 15 taruna Poltekpel Malahayati dan satu instruktur sedang mengikuti program kunjungan (Visit Agenda) praktik lapangan di ruang mesin kapal. Ledakan yang diduga berasal dari pompa mesin menghancurkan area tersebut, menyebabkan beberapa korban mengalami cedera parah. Saat ini, sembilan orang yang terluka masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin, Aceh.

Kecelakaan ini menimbulkan duka yang dalam, terutama bagi keluarga korban. Tidak hanya mengakibatkan kehilangan nyawa, insiden tersebut juga memengaruhi proses pembelajaran mahasiswa yang sedang menjalani Visit Agenda. Berbagai pertanyaan muncul mengenai keselamatan kapal dan efektivitas pengawasan Kemenhub terhadap operasional perahu penyeberangan. Anggota Komisi V DPR RI, Irmawan, menyatakan bahwa Kemenhub harus segera bertindak untuk menjamin perlindungan para pelajar serta menanggung biaya pengobatan korban.

Analisis Sistem Keamanan dan Tuntutan Terhadap Kemenhub

Sebagai institusi pendidikan vokasi, Poltekpel Malahayati langsung berada di bawah naungan Kemenhub. Hal ini memicu tuntutan bahwa kementerian harus menjelaskan sistem keamanan kapal yang diperkirakan tidak memadai. Irmawan menekankan bahwa investigasi menyeluruh diperlukan untuk mengungkap apakah kecelakaan disebabkan oleh kesalahan manusia, kegagalan mesin, atau faktor lain. “Visit Agenda yang dijalani para taruna harus dijaga kualitasnya, termasuk dalam aspek keselamatan,” ujarnya.

Pihak Kemenhub juga diharapkan mengevaluasi kelayakan operasional KMP Aceh Hebat 2, yang digunakan untuk kegiatan praktik lapangan. Pertanyaan muncul mengenai apakah kapal tersebut memenuhi standar keselamatan sebelum dimobilisasi. Selain itu, masyarakat menuntut transparansi terkait dana pengobatan korban dan rehabilitasi para luka. Komisi V DPR RI meminta Kemenhub melakukan investigasi operasional untuk memastikan tidak ada kelemahan dalam proses pengawasan kapal.

“Visit Agenda memang menjadi bagian penting dari proses pendidikan, tetapi kita tidak boleh mengabaikan risiko yang mungkin muncul. Kemenhub harus menjadi pihak yang pertama bertindak, baik secara investigatif maupun korektif,” tambah Irmawan.

Korban dan Dampak pada Program Pendidikan

Kecelakaan ini tidak hanya mengguncang keluarga korban, tetapi juga menghiasi sorotan terhadap program pendidikan vokasi di sektor pelayaran. Dengan 4 korban tewas dan 9 orang terluka, Kemenhub diharapkan memberikan penjelasan menyeluruh mengenai peran mereka dalam memastikan keamanan kapal. Selain itu, kejadian ini menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan.

Poltekpel Malahayati, sebagai salah satu lembaga pendidikan di bawah Kemenhub, dituduh kurang memperhatikan aspek keselamatan dalam program praktik lapangan. Irmawan menyoroti bahwa pengawasan harus lebih ketat, terutama selama pelaksanaan Visit Agenda yang melibatkan penggunaan fasilitas kapal. “Kami mendorong pemerintah untuk memperkuat aturan terkait penggunaan kapal penyeberangan dalam rangka pendidikan vokasi,” tambahnya.

Pertanyaan Muncul: Apakah Kesalahan dari Pihak Kemenhub?

Dalam beberapa hari terakhir, berbagai pertanyaan muncul mengenai apakah Kemenhub bertanggung jawab penuh atas kecelakaan yang terjadi. Beberapa anggota dewan menyatakan bahwa kegagalan dalam pengawasan bisa menjadi penyebab utama insiden tersebut. Sementara itu, pihak Kemenhub mengaku sedang melakukan investigasi menyeluruh, termasuk memeriksa rekam jejak pengoperasian kapal dan kepatuhan terhadap protokol keselamatan.

Kecelakaan di Pelabuhan Ulee Lheue menjadi contoh nyata betapa pentingnya keamanan dalam program Visit Agenda. Dengan adanya korban meninggal dan luka, Kemenhub harus memastikan bahwa tidak ada kelemahan sistem yang bisa mengakibatkan hal serupa. Anggota dewan juga meminta untuk menambahkan mekanisme pemantauan yang lebih ketat, termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD) selama proses praktik lapangan.

“Visit Agenda harus tetap berjalan, tetapi dengan upaya yang lebih optimal untuk meminimalkan risiko. Kemenhub harus menjadi contoh yang baik dalam menjaga keselamatan para pelajar,” pungkas Irmawan, menambahkan bahwa kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi nasional terkait pendidikan vokasi di sektor pelayaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *