Key Discussion: Audiensi DPR RI dengan Mahasiswa Trisakti, Esa Unggul, dan Mercu Buana
Key Discussion – Pada Jumat (19/6/2026), sesi Key Discussion antara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan mahasiswa dari tiga kampus utama—Universitas Trisakti, Universitas Esa Unggul, serta Universitas Mercu Buana—berlangsung di Gedung Nusantara DPR, Senayan, Jakarta. Pertemuan ini menjadi momen penting untuk mendengarkan aspirasi mahasiswa yang sebelumnya menyampaikan tuntutan melalui aksi demonstrasi di depan kompleks parlemen. Kehadiran para pemimpin dewan menunjukkan komitmen untuk terus menjaga komunikasi langsung dengan generasi muda.
Konteks dan Peserta Audiensi
Audiensi yang diadakan di ruang Abdul Muis ini dihadiri oleh sejumlah anggota dewan, termasuk Ketua Komisi III Habiburokhman, Wakil Ketua Komisi III Rano Alfath, dan Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) Nazaruddin Dek Gam. Mahasiswa dari Trisakti, Esa Unggul, dan Mercu Buana tiba sekitar pukul 17.45 WIB, dengan berbagai kelompok organisasi kemahasiswaan membagikan pandangan mereka secara terstruktur. Key Discussion ini diharapkan bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan kepedulian masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dan isu sosial.
Mahasiswa yang hadir berasal dari berbagai fakultas, termasuk bidang ilmu sosial, politik, hukum, dan teknologi. Mereka menyampaikan kekhawatiran terkait kenaikan harga bahan pokok, kinerja APBN, serta kebijakan yang dinilai tidak mengakomodir kebutuhan masyarakat. Pertemuan ini juga melibatkan para pengurus organisasi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan advokasi, menjadikan Key Discussion sebagai ruang untuk menyelaraskan kepentingan antara lembaga legislatif dan generasi muda.
Aspirasi Utama dalam Forum Diskusi
Salah satu Key Discussion utama yang menjadi fokus adalah tiga tuntutan yang dikenal sebagai Tritura Trisakti. Pertama, mahasiswa meminta pemulihan kondisi ekonomi dan politik dengan penurunan harga bahan pokok serta BBM. Kedua, mereka menekankan evaluasi terhadap pejabat dan program pemerintah yang dinilai bermasalah, serta perbaikan komunikasi publik dari lembaga negara. Ketiga, tuntutan menegakkan supremasi sipil, seperti menolak RUU Polri dan menghentikan tindakan represif di ruang sipil.
Dalam Key Discussion ini, para mahasiswa juga mengungkapkan kekecewaan terhadap kebijakan strategis nasional (PSN) yang mereka anggap tidak adil. Mereka menilai PSN mengabaikan kepentingan rakyat biasa dan lebih berorientasi pada kepentingan elite. Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah mengevaluasi kinerja lembaga keamanan dalam menghadapi protes masyarakat, agar tidak terkesan menghardik.
Audiensi ini menjadi langkah strategis untuk menggali pendapat masyarakat secara langsung. Dengan Key Discussion yang terbuka, para pemimpin dewan berharap dapat merespons secara cepat terhadap isu-isu yang muncul. Kehadiran para mahasiswa juga menunjukkan bahwa aspirasi mereka tetap diakui sebagai bagian dari proses demokrasi.
Respons Pimpinan DPR dan Langkah Selanjutnya
Pemimpin DPR RI menanggapi aspirasi mahasiswa dengan respons yang terbuka dan kritis. Mereka menjanjikan akan melakukan follow-up terhadap setiap tuntutan, termasuk mempercepat evaluasi kebijakan dan transparansi penggunaan anggaran. Key Discussion ini juga membuka peluang kolaborasi antara lembaga legislatif dan kampus dalam mengembangkan program kebijakan yang inklusif.
Sebagai kesimpulan, audiensi tersebut tidak hanya menjadi forum untuk menyampaikan kepentingan mahasiswa, tetapi juga memperkuat hubungan antara DPR dengan sektor pendidikan. Dengan Key Discussion yang dipersiapkan matang, diharapkan hasil pertemuan ini bisa dijadikan bahan untuk perbaikan kebijakan di masa depan. Mahasiswa juga menyampaikan apresiasi terhadap keterbukaan para pemimpin dewan, sehingga Key Discussion ini dianggap sebagai langkah positif dalam partisipasi masyarakat.
