Angka Pengangguran Solo Turun, Tapi Lulusan SMA/SMK Masih Dominan
Key Strategy dalam menurunkan tingkat pengangguran di Kota Solo terus berlanjut, seiring data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pengangguran terbuka (TPT) mencapai 6.943 orang pada 2024. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, meski masih didominasi oleh lulusan SMA dan SMK yang belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja.
Analisis Struktur Pengangguran dan Kebutuhan Industri
Menurut Kepala BPS Solo, Ratna Setyowati, jumlah pengangguran di tahun 2025 turun menjadi 4,50 persen, menurunkan angka dari tahun 2024 yang sebesar 4,61 persen. Namun, meskipun terjadi penurunan, sekitar 70 persen dari total pengangguran terbuka merupakan lulusan SMA dan SMK. Angka ini menunjukkan bahwa walaupun Key Strategy berhasil mengurangi angka pengangguran secara keseluruhan, kelompok ini masih menjadi penyumbang utama.
“Pengangguran terbuka di Solo mengalami penurunan karena berbagai program Key Strategy yang diterapkan pemerintah, seperti Rumah Siap Kerja Bersama (RSKB). Namun, lulusan SMA/SMK belum sepenuhnya terintegrasikan ke dalam sektor industri yang berkembang,” ujarnya.
Peran Program RSKB dalam Membuka Peluang Kerja
Program RSKB, sebagai bagian dari Key Strategy, berupaya memperkuat koneksi antara lulusan SMK/SMA dengan pelaku usaha. Pemkot Surakarta menyiapkan berbagai kegiatan seperti Solo Career Expo 2026 untuk menghadirkan peluang kerja kepada 3.456 pencari kerja. Dalam acara tersebut, sebanyak 6.401 lowongan kerja dari puluhan perusahaan ditawarkan, dengan 2.393 orang mengajukan lamaran.
Key Strategy juga mencakup pelatihan keterampilan khusus, seperti program peningkatan kompetensi bidang teknologi dan manajemen. Pemkot Solo menggandeng berbagai lembaga pendidikan dan institusi swasta untuk memastikan lulusan SMK/SMA memiliki kualifikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Meski demikian, angka pengangguran dari kelompok ini masih tinggi dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi.
Perbandingan Data Tahunan dan Kinerja Pemkot Solo
Berdasarkan data BPS Jawa Tengah, jumlah pengangguran laki-laki di Surakarta berkurang dari 13.007 orang pada 2021 menjadi 11.634 orang pada 2022, 9.747 orang pada 2023, dan 6.943 orang pada 2024. Penurunan ini terjadi secara bertahap, dengan peran aktif Key Strategy dalam menyediakan pelatihan dan kerja sama antar institusi pendidikan serta sektor usaha.
Key Strategy juga menyoroti kebutuhan khusus di sektor industri modern. Mayoritas perusahaan menuntut kandidat dengan latar belakang pendidikan tinggi, sementara lulusan SMK/SMA masih dianggap kurang memenuhi standar kompetensi tertentu. Oleh karena itu, Pemkot Solo terus berupaya meningkatkan kualifikasi lulusan sekolah menengah melalui pelatihan berbasis kompetensi dan program kerja sampingan.
Keterlibatan Pemerintah Daerah dalam Pemenuhan Kebutuhan Tenaga Kerja
Pemerintah Kota Solo, melalui Key Strategy, aktif melibatkan berbagai pihak untuk mendorong partisipasi lulusan SMA/SMK dalam kegiatan ekonomi. Misalnya, melalui Solo Career Expo 2026, para pencari kerja diberi kesempatan untuk menjajaki peluang di berbagai bidang, termasuk teknologi, pariwisata, dan manufaktur. Kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat menjadi faktor utama dalam menggerakkan Key Strategy ini.
“Kita terus meningkatkan pelatihan dan keterampilan untuk lulusan SMK/SMA agar bisa kompetitif di pasar kerja. Key Strategy juga mengarahkan mereka ke sektor-sektor yang sedang berkembang, seperti teknologi dan ekonomi digital,” kata Wali Kota Solo, Respati Ardi, dalam wawancara terpisah.
Masa Depan dan Target Key Strategy
Dalam perencanaan Key Strategy ke depan, Pemkot Solo menargetkan penurunan TPT hingga di bawah 4 persen pada 2026. Hal ini diperkirakan dapat dicapai melalui pengembangan lebih lanjut program pelatihan dan kebijakan pemberdayaan ekonomi. Pemkot juga berharap agar lulusan SMK/SMA tidak lagi menjadi kelompok dominan pengangguran, tetapi bisa menjadi pengisi utama di berbagai sektor industri.
Key Strategy akan terus diperkuat dengan penerapan kerja sama lintas sektor, termasuk industri manufaktur, teknologi, dan jasa. Selain itu, pemkot juga berencana mengembangkan kampus terbuka (open campus) untuk memudahkan pelatihan dan perekrutan tenaga kerja. Harapan ini diungkapkan oleh tim ekonomi kota Solo dalam rapat evaluasi tahunan, yang menilai bahwa program Key Strategy menjadi kunci utama dalam menurunkan angka pengangguran.
