Kerja Sama Pertahanan RI-Turki Dibahas dalam Key Discussion DPR
Key Discussion tentang kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Turki menjadi topik utama dalam rapat Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (23/6). Anggota komisi tersebut, Syamsu Rizal atau akrab disapa Deng Ical, menyatakan bahwa kebijakan kerja sama pertahanan dengan Turki tidak hanya berkaitan dengan penguatan pertahanan nasional, tetapi juga harus mencerminkan kebijakan luar negeri yang strategis dan memberikan manfaat ekonomi serta teknis yang lebih luas bagi industri dalam negeri.
Manfaat Transfer Teknologi untuk Pertahanan Nasional
Dalam Key Discussion, Deng Ical menekankan bahwa kerja sama pertahanan dengan Turki harus diarahkan pada transfer teknologi alutsista yang bermanfaat jangka panjang. Menurutnya, pengembangan industri pertahanan lokal memerlukan dukungan teknologi dari negara-negara mitra untuk meningkatkan kemandirian dan kualitas produk dalam negeri. Ia menyampaikan bahwa hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong pertumbuhan sektor pertahanan secara berkelanjutan.
“Kerja sama ini tidak sekadar ekspor bilateral, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara strategis dalam rangkaian kebijakan luar negeri. Dengan transfer teknologi, kita bisa membangun industri pertahanan yang mampu bersaing di tingkat global,” ujarnya.
Keberhasilan Turki sebagai Model Transfer Teknologi
Deng Ical menyoroti keberhasilan Turki dalam pengembangan industri pertahanan yang didasari oleh sistem triple helix—kolaborasi antara lembaga pendidikan, sektor industri, dan pemerintah. Model ini membuat Turki menjadi salah satu negara yang mampu menawarkan transfer teknologi yang signifikan, terutama dalam bidang pembuatan kapal selam dan sistem pertahanan modern. Ia menekankan bahwa Indonesia bisa belajar dari pengalaman Turki untuk mempercepat proses pematangan sektor pertahanan lokal.
“Kita perlu mengevaluasi kinerja Turki dalam Key Discussion ini, karena mereka memberikan contoh nyata bagaimana transfer teknologi bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan industri,” tambah Deng Ical.
Penguatan Ekosistem Pertahanan Indonesia
Sementara itu, anggota DPR juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh industri pertahanan Indonesia. Ia menegaskan bahwa ekosistem sektor ini masih perlu diperkuat, baik dari segi sumber daya manusia, infrastruktur, maupun kebijakan yang konsisten. Menurut Deng Ical, kerja sama dengan Turki bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kapasitas industri dalam negeri, terutama dalam pengembangan alutsista canggih.
Key Discussion ini juga menyebutkan pentingnya integrasi teknologi dalam industri pertahanan, sehingga produk lokal bisa dikembangkan secara berkelanjutan. Deng Ical mencontohkan bahwa dengan dukungan teknologi, Indonesia bisa menghasilkan kapal selam otonom tanpa awak (KSOT) atau sistem pertahanan yang lebih modern, yang tidak hanya memperkuat kemampuan militer tetapi juga mendorong ekspor produk pertahanan ke pasar internasional.
Langkah Strategis dalam Keberlanjutan Kerja Sama
Menyusul Key Discussion tersebut, Deng Ical menyarankan agar pemerintah dan DPR memastikan keberlanjutan kerja sama pertahanan dengan Turki. Ia menekankan bahwa kontrak teknis dan perjanjian ratifikasi harus mencakup aspek penguatan kapasitas industri, bukan hanya transfer teknologi. “Kita harus memperhatikan bahwa setiap langkah dalam Key Discussion harus menghasilkan dampak nyata bagi pertahanan nasional dan ekonomi,” imbuhnya.
Key Discussion juga menyoroti kebutuhan Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara ketergantungan teknologi luar dan pengembangan teknologi dalam negeri. Deng Ical menyarankan bahwa kebijakan kerja sama pertahanan dengan Turki harus diintegrasikan dengan kebijakan lain, seperti pendidikan teknik dan pengembangan riset, agar menciptakan ekosistem pertahanan yang mandiri dan berkelanjutan.
Potensi Kemitraan dalam Era Globalisasi
Kerja sama pertahanan RI-Turki, dalam Key Discussion, dianggap sebagai langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Deng Ical mengingatkan bahwa dampak dari keterlibatan Turki dalam aliansi pertahanan global harus dipertimbangkan secara matang, agar tidak mengganggu kebijakan luar negeri RI. Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu memastikan bahwa setiap kerja sama teknis memberikan manfaat ekonomi dan pertahanan yang seimbang.
“Key Discussion ini membuktikan bahwa kerja sama pertahanan dengan Turki bukan hanya sekadar pembelian alutsista, tetapi juga peluang untuk membangun industri yang mampu bertahan dalam era globalisasi,” pungkas Deng Ical.
Dengan memperkuat hubungan bilateral di bidang pertahanan, Indonesia diharapkan bisa menjangkau pasar internasional yang lebih luas. Key Discussion menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama ini bergantung pada komitmen pemerintah dan DPR untuk mendorong pertumbuhan sektor pertahanan yang berkelanjutan, serta mengelola risiko geopolitik dengan bijak.
