Jurnalis Senior Terbongkar Cara Orde Baru Kendalikan Media
Meeting Results – Dalam sebuah wawancara yang menjadi sorotan publik, jurnalis senior Widiarsi Agustina membongkar mekanisme ketat yang digunakan pemerintah Orde Baru untuk mengendalikan dunia pers. Hasil rapat dengan pihak berkuasa sering kali menjadi acuan utama dalam penyusunan laporan berita, dengan para jurnalis memastikan bahwa diksi dan isi berita selalu sejalan dengan agenda pemerintah. Menurut Widiarsi, kontrol ini bukan hanya berupa pengarahan langsung, tetapi juga mencakup penggunaan teknik penulisan, penyesuaian narasi, serta pengawasan terhadap pemilihan topik yang diliput.
Meeting Results ini terungkap dalam diskusi bertajuk “30 Tahun Kudatuli Dalam Catatan Wartawan: Refleksi Perjuangan Jurnalis” yang berlangsung di Kedai Tempo, Jakarta, pada hari Minggu (19/7). Acara tersebut menjadi wadah bagi jurnalis untuk merangkum pengalaman mereka selama periode Orde Baru, mengungkap bagaimana media selama itu dijadikan alat untuk menyampaikan pesan tertentu. Meski harus menghadapi tekanan dari pihak berkuasa, para jurnalis tetap berusaha mempertahankan kebebasan mereka dengan mengandalkan fakta-fakta lapangan dan proses verifikasi yang ketat.
Strategi Kontrol Diksi dan Isi Berita
Salah satu cara utama Orde Baru mengendalikan media adalah melalui pengarahan rutin kepada tim redaksi. Widiarsi menjelaskan bahwa para jurnalis diberi petunjuk mengenai berita yang boleh dipublikasikan atau yang perlu dihindari, terutama terkait isu-isu sensitif. Selain itu, pemerintah juga memantau pilihan kata yang digunakan dalam laporan berita, memastikan bahwa istilah-istilah tertentu diarahkan sesuai dengan keinginan mereka. Contohnya, penulisannya nama tokoh politik sering disesuaikan dengan pandangan pemerintah, sehingga mengurangi kemungkinan munculnya kritik.
Kontrol itu mencapai tingkat pilihan kata. Cara menulis nama tokoh juga disesuaikan dengan arahan pemerintah,” kata Widiarsi.
Dalam kasus Kudatuli, misalnya, media diperintahkan untuk menyampaikan narasi tertentu guna membangun persepsi publik yang menguntungkan pemerintah. Widiarsi menyebutkan bahwa istilah “gerakan politik” atau “kudatuli” sering kali digunakan untuk menyelubungi kritik terhadap kebijakan pemerintah. Meski demikian, para jurnalis masih berusaha menemukan cara untuk menyampaikan fakta secara objektif, meski harus menghindari kata-kata yang bisa menimbulkan kontroversi.
Peran Redaksi dan Proses Verifikasi
Widiarsi menekankan bahwa redaksi media memiliki peran kritis dalam menjaga profesionalisme. Meski terikat oleh instruksi dari pihak berkuasa, para editor tetap berupaya memberi ruang bagi kebebasan jurnalistik dengan memverifikasi informasi sebelum dipublikasikan. “Dalam situasi sulit, redaksi berfungsi sebagai penjaga akurasi berita, karena jurnalis harus tetap mengacu pada fakta,” jelasnya.
Dalam praktiknya, kontrol berita di Orde Baru tidak hanya terjadi di tingkat pemerintah, tetapi juga melibatkan interaksi internal di media. Misalnya, jumlah kolom yang diberikan kepada penulis terkadang diatur agar fokus berita sesuai dengan arahan yang diberikan. Widiarsi juga menyebut bahwa struktur berita, termasuk judul dan pengorganisasian isi, selalu dipertimbangkan agar tidak mengganggu narasi pemerintah. Meski begitu, para jurnalis tetap berusaha mengedepankan kredibilitas media dengan memastikan informasi yang disampaikan tidak berlebihan atau bermakna ganda.
Pengawasan Volume Liputan dan Format
Meeting Results juga menunjukkan bahwa Orde Baru memantau volume liputan media secara ketat. Jumlah artikel yang diterbitkan terkait Kudatuli, misalnya, sering kali dibatasi agar tidak menimbulkan gelombang kritik yang terlalu besar. Selain itu, format pemberitaan seperti panjang artikel, gaya penyajian, dan bahkan tempo penyebaran berita menjadi bahan evaluasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan media tidak terlalu cepat merespons isu-isu yang bisa mengganggu stabilitas pemerintah.
Salah satu contoh konkret adalah dalam pemberitaan mengenai persidangan kasus Kudatuli. Wartawan harus berhati-hati dalam menyajikan jumlah korban dan detail perkembangan kasus, karena informasi tersebut sering kali disesuaikan dengan petunjuk dari pihak berkuasa. Widiarsi menyoroti bahwa jurnalis harus memilih waktu dan cara mengungkap fakta agar tidak menimbulkan efek domino terhadap opini publik. Meski demikian, ia menekankan bahwa pengalaman ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kebebasan pers sebagai fondasi demokrasi.
Meeting Results ini menunjukkan bagaimana kontrol media pada masa Orde Baru tidak hanya bersifat horizontal, tetapi juga vertikal melalui sistem hierarki yang ketat. Dari tingkat redaksi hingga tim penulis, setiap lapisan media menjadi bagian dari mekanisme penyaringan informasi. Namun, pengalaman jurnalis senior Widiarsi Agustina membuktikan bahwa kebebasan pers tetap bisa dipertahankan dengan tetap berpegang pada prinsip fakta dan objektivitas, meski harus menghadapi tekanan dan manipulasi diksi.
Kontrol media oleh Orde Baru, menurut Widiarsi, tidak hanya memengaruhi cara penyampaian berita, tetapi juga membentuk cara berpikir masyarakat. Dengan menyesuaikan narasi berita, pemerintah menciptakan persepsi umum yang mendukung kebijakan mereka. Namun, para jurnalis tetap berusaha menemukan celah untuk menyampaikan kebenaran, bahkan dalam kondisi yang sangat ketat. “Meeting Results ini menjadi bukti bagaimana media bisa menjadi alat propaganda, tetapi juga bisa menjadi penjaga keadilan,” tutup Widiarsi.
