Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Minta

New Policy: Menteri Pigai Minta Pelatihan Calon Manajer Kopdes Dievaluasi

Michael Garcia - kabarnaya.com 3 mins read

Menteri Pigai Minta Pelatihan Calon Manajer Kopdes Dievaluasi New Policy - Sebagai bagian dari New Policy yang baru diterapkan, Menteri Hak Asasi Manusia

New Policy: Menteri Pigai Minta Pelatihan Calon Manajer Kopdes Dievaluasi

Menteri Pigai Minta Pelatihan Calon Manajer Kopdes Dievaluasi

New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang baru diterapkan, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengusulkan evaluasi menyeluruh terhadap program pelatihan dasar militer (latsarmil) yang dijalani calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Langkah ini diambil setelah terjadi peningkatan jumlah peserta yang meninggal dunia selama kegiatan tersebut menjadi lima orang. Menteri Pigai menekankan pentingnya memastikan keamanan peserta menjadi prioritas utama dalam New Policy ini.

Tujuan dan Lingkup Evaluasi

Evaluasi yang diminta oleh Menteri Pigai melibatkan peninjauan berbagai aspek dalam pelatihan, termasuk kurikulum, prosedur operasional standar (SOP), intensitas latihan fisik, dan mekanisme pemeriksaan kesehatan. Tujuan utamanya adalah untuk menilai apakah metode pelatihan saat ini masih relevan dan efektif dalam mencetak calon manajer yang mampu memimpin kegiatan ekonomi desa secara optimal. New Policy ini juga bertujuan mengurangi risiko kecelakaan yang terjadi selama pelatihan, terutama bagi peserta yang memiliki kondisi kesehatan rentan.

Menurut Pigai, evaluasi ini akan menjadi dasar untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada. Ia mengatakan bahwa selama ini pelatihan militer dianggap sebagai sarana untuk membangun semangat disiplin dan tanggung jawab di kalangan calon manajer. Namun, dengan adanya kelima korban meninggal, perlu adanya refleksi kritis terhadap cara penyelenggaraannya. New Policy ini juga berupaya mengintegrasikan metode pendidikan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan, sesuai dengan prinsip HAM yang dipegang oleh Kemhan.

Kemungkinan Perubahan Metode Pendidikan

Dalam New Policy ini, Pigai menyarankan bahwa penguatan mental calon manajer tidak harus dilakukan secara militer. Ia berpendapat bahwa metode alternatif seperti pendekatan psikologis, keterampilan manajerial, dan pembelajaran berbasis pengalaman bisa lebih efektif. “Penguatan mental bisa dicapai melalui pendidikan yang lebih santai, namun tetap memperkuat kesadaran peserta tentang tugas dan tanggung jawab,” jelasnya dalam wawancara dengan media.

Menurut Pigai, pelatihan militer juga bisa digunakan untuk memperkuat disiplin dan ketangkasan, tetapi harus diimbangi dengan pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat. Ia menyoroti bahwa kondisi fisik dan mental peserta perlu dipantau secara berkala, baik sebelum, selama, maupun setelah pelatihan. Hal ini sangat penting agar kecelakaan yang terjadi tidak terulang dan kebijakan New Policy ini bisa menjadi contoh terbaik dalam pendidikan yang lebih humanis.

Respons dari Kementerian Pertahanan

Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah merespons permintaan evaluasi Menteri Pigai dengan menyatakan bahwa penyebab kematian peserta latsarmil bervariasi, seperti kelelahan panas, henti jantung, dan tuberkulosis (Tb). Mereka juga menyatakan akan melakukan investigasi transparan terhadap setiap kasus. New Policy ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas pelatihan dan mengurangi risiko kecelakaan di masa depan.

Menurut data terkini, Kemhan mencatat bahwa sejak pelatihan latsarmil dimulai, ada lima peserta yang meninggal. Angka ini meningkat dari sebelumnya yang hanya dua orang. Pigai menegaskan bahwa New Policy ini akan menjadi kebijakan yang lebih tegas dalam menyelaraskan antara pendidikan manajerial dan perlindungan HAM. “Kami tidak ingin program ini dianggap sebagai metode yang tidak aman,” katanya.

Pigai juga menyoroti pentingnya melibatkan para ahli kesehatan dalam penyelenggaraan pelatihan. Ia menyarankan adanya penambahan konsultasi medis sebelum dan selama program, serta pemantauan kondisi peserta secara berkala. New Policy ini diharapkan tidak hanya mengurangi risiko kecelakaan, tetapi juga meningkatkan kualitas pelatihan sehingga calon manajer Kopdes bisa lebih siap dalam menghadapi tantangan pengelolaan koperasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *