Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Refleksi

Refleksi 30 Tahun Kerusuhan 27 Juli 1996, Megawati Ingatkan Soal Netralitas Aparat dan Fenomena Buzzer

Sandra Moore - kabarnaya.com 2 mins read

Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan orasi dalam pembukaan pameran sejarah dan

Refleksi 30 Tahun Kerusuhan 27 Juli 1996, Megawati Ingatkan Soal Netralitas Aparat dan Fenomena Buzzer

Megawati Refleksi Kudatuli: Netralitas Aparat dan Buzzer di Era Digital

Kabarnaya.com – Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan orasi dalam pembukaan pameran sejarah dan dokumentasi foto bertajuk “Meretas Jalan Demokrasi”. Acara tersebut berlangsung di Taman Ismail Marzuki, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada hari Selasa tanggal 21 Juli.

Kudatuli sebagai Simbol Perlawanan

Pameran fotografi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan tiga dekade peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996, yang lebih dikenal dengan sebutan Kudatuli. Dalam sambutannya, Megawati menegaskan bahwa momen bersejarah tersebut bukan hanya sekadar rekaman masa lalu, melainkan representasi perjuangan melawan ketidakadilan yang wajib diwariskan kepada generasi penerus.

Mantan Ketua Umum PDI tersebut menyoroti bahwa inti dari Kudatuli terletak pada ketidakadilan struktural yang dialami pada era Orde Baru. Ia mempertanyakan logika mengapa kantor partai yang legal dan diakui secara hukum justru menjadi sasaran serangan aparat keamanan.

Kudatuli itu adalah simbol. Simbol dari apa? Ketidakadilan! Lah, tempatnya aja sah. Saya didukung juga sah. Tapi kenapa karena saya yang menang, lalu kok saya dibegitukan? Dan serangnya itu juga bukan dari luar (asing), dari aparat kita!

Netralitas Aparat dan Tantangan Masa Kini

Megawati juga berbagi pengalaman pribadi terkait tekanan hukum yang ia hadapi pada masa itu. Ia sempat dipanggil sebanyak tiga kali oleh Kepolisian dan satu kali oleh Kejaksaan untuk menjalani pemeriksaan yang berlangsung dari pagi hingga malam hari.

Melalui pengalaman tersebut, Megawati mengingatkan aparat kepolisian dan TNI saat ini agar tetap berkomitmen menjaga profesionalisme dan netralitas. Ia berharap alat negara tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis semata.

Apakah alat negara itu akan dijadikan terus-menerus seperti apa yang saya alami pada waktu itu, pada waktu Kudatuli?

Fenomena Buzzer dan Peran Media

Selain menyoroti kinerja aparatur negara, Megawati juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap fenomena buzzer di platform media sosial yang banyak didominasi kalangan muda. Ia merasa prihatin jika potensi generasi muda justru dimanfaatkan untuk menjatuhkan atau mencemarkan nama baik seseorang demi motif ekonomi.

Megawati juga memberikan tantangan terbuka kepada insan pers nasional. Ia meminta media untuk berani menyampaikan kebenaran sejarah serta memberitakan pidatonya secara objektif, berimbang, dan utuh tanpa memotong konteks.

Ayo, beranikah yang namanya media menyampaikan kata-kata saya ini secara terbuka?

Pesan untuk Generasi Muda

Putri Proklamator Bung Karno ini juga mengimbau anak muda agar memiliki tujuan hidup yang jelas demi masa depan bangsa. Ia berharap generasi muda tidak menjadi orang bambung dan senantiasa menjaga harga diri sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan tradisi budaya.

Masukkan ke dalam hati sanubari bahwa saya adalah orang Indonesia dan saya punya harga diri untuk menjadi orang Indonesia!

(Pon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *