Legislator Minta Tata Kelola Dukungan Atlet Dievaluasi dalam Rangka Special Plan
Special Plan – Dalam rangka meningkatkan kualitas olahraga nasional, sejumlah anggota legislatif mengusulkan evaluasi terhadap tata kelola pendanaan atlet di bawah program Special Plan. Kebijakan ini, yang dirancang sebagai upaya memperkuat performa olahraga Indonesia di kancah internasional, kini menjadi sorotan setelah Desak Made Rita Kusuma Dewi, seorang atlet panjat tebing berprestasi, mengungkapkan minimnya dukungan dari pemerintah selama mengikuti Kejuaraan Dunia Panjat Tebing di Krakow, Polandia. Meski berhasil meraih medali emas, Rita mengatakan bahwa sistem penyaluran dana untuk atlet masih memerlukan penyesuaian agar lebih efisien dan merata.
Proses Penerapan Special Plan yang Perlu Diperbaiki
Amure, anggota Komisi X DPR RI, memberikan tanggapan setelah mendengar pernyataan Rita. Ia menilai keberhasilan atlet seperti Rita seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang cara pemerintah mendukung para pesaing di tingkat internasional. “Special Plan harus menjadi jaminan konsisten bagi atlet, bukan sekadar janji di masa kampanye,” ujarnya. Menurutnya, pengelolaan dana olahraga saat ini terkesan tidak sesuai dengan kebutuhan nyata atlet, terutama dalam konteks kompetisi global yang memerlukan perencanaan jangka panjang.
Kebijakan Special Plan sendiri dirancang untuk menjamin alokasi anggaran yang lebih terarah kepada pembinaan atlet dan pengembangan fasilitas olahraga. Namun, praktik implementasinya masih memerlukan evaluasi, terutama dalam memastikan bahwa dana dialokasikan secara proporsional kepada atlet yang memiliki potensi besar. Amure juga menyoroti bahwa pemerintah bisa memperbaiki mekanisme distribusi dana dengan memanfaatkan peran lembaga swasta sebagai mitra, sehingga tidak hanya mengandalkan anggaran negara.
Di sisi lain, Desak Made Rita memberikan perspektif tentang pengalaman langsungnya sebagai atlet yang berada di bawah sistem Special Plan. “Sebelum berangkat ke Krakow, saya merasa dukungan dari pemerintah masih terbatas,” katanya. Meski telah meraih medali emas, ia menyatakan bahwa kurangnya fasilitas dan perhatian terhadap kebutuhan spesifik atlet menjadi kendala. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun program Special Plan memiliki visi yang baik, kinerjanya di lapangan belum optimal. Rita menekankan bahwa dukungan yang terstruktur dan berkelanjutan sangat penting untuk mempertahankan keunggulan atlet dalam ajang internasional.
Dalam konteks ini, Special Plan dianggap sebagai salah satu inisiatif pemerintah yang bertujuan membangun ekosistem olahraga yang lebih baik. Namun, kritik dari Amure dan Rita mengindikasikan adanya kelemahan dalam koordinasi antarinstansi serta kurangnya pengawasan terhadap penggunaan dana. Evaluasi tata kelola yang lebih mendalam, menurut Amure, diperlukan untuk memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya berjalan sesuai target, tetapi juga bisa menciptakan kondisi optimal bagi atlet. “Special Plan harus dijalankan dengan transparansi, agar publik bisa memantau efektivitasnya,” katanya.
Perspektif dari pelaku olahraga juga menunjukkan bahwa keberhasilan Special Plan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keselarasan antara strategi yang ditetapkan dan kebutuhan nyata atlet. Dalam kasus Desak Made Rita, meski prestasinya membanggakan, pengalaman dukungan pemerintah di bawah program Special Plan masih menunjukkan titik lemah. Sejumlah anggota dewan menilai bahwa revisi terhadap pola distribusi dana harus menjadi prioritas agar keberhasilan olahraga nasional bisa dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut. “Special Plan tidak bisa hanya sebagai buku rencana, tetapi harus diimplementasikan secara konsisten,” tambah Amure.
